Teater Tradisional Khas Masyarakat Kutai
Penulis: Fikri Yassaar Arrazaq | 14 Februari 2026
Mamanda Kutai adalah bentuk teater tradisional masyarakat Kutai, Kalimantan Timur. Pertunjukan ini merepresentasikan cerita-cerita yang berpusat pada kehidupan kerajaan. Penambahan sebutan “Kutai” pada kesenian Mamanda di lingkungan masyarakat Kutai dimaksudkan sebagai penanda pembeda dari Mamanda yang berkembang di masyarakat Banjar, mengingat hal yang tidak dapat dipungkiri bila Mamanda Banjar lebih luas dikenal oleh masyarakat umum dibandingkan Mamanda Kutai.
Secara etimologis, Mamanda dalam konteks masyarakat Kutai memiliki asal-usul dan pemaknaan tersendiri. Istilah mamanda diturunkan dari kata mama atau mamak dengan penambahan sufiks “-nda” yang dalam tradisi Bahasa Melayu/Indonesia berfungsi sebagai sapaan yang bersifat mesra, hormat, dan penuh kasih. Dalam hal ini, mamanda dimaknai sebagai mama atau ibu.
Pemaknaan tersebut tidak hanya bersifat kebahasaan, tetapi juga berkaitan dengan pandangan kultural masyarakat Kutai. Mamanda dipandang sebagai “ibu” dari kesenian maupun budaya yang hidup di masyarakat Kutai, karena di dalam pertunjukannya hampir seluruh bentuk seni dan budaya Kutai dapat dihadirkan. Unsur musik, tari, hingga ekspresi budaya lainnya dapat disajikan dan dirangkai dalam pertunjukan Mamanda Kutai sesuai dengan alur cerita atau kisah yang dibawakan.
Dokumentasi pertunjukan Memanda Panji Berseri berkolaborasi dengan Bina Teater Kutai dengan lakon "Putri yang Hilang" tahun 2009
Secara historis, Mamanda Kutai mulanya disajikan dalam konteks Kresmenan Aji, yaitu hiburan bagi Sultan Kutai Kartanegara ing Martadipura (sebagaian menyebut Kutai Kartanegara ing Martapura) beserta kerabat istana. Pertunjukan ini menjadi bagian dari kehidupan budaya istana, baik sebagai sarana hiburan maupun sebagai representasi simbolik kebesaran kerajaan. Seiring perubahan politik dan administratif, ketika Kesultanan Kutai Kartanegara beralih menjadi Kabupaten Kutai, Mamanda Kutai mengalami pergeseran fungsi. Berawal dari seni pertunjukan istana, Mamanda Kutai kemudian berkembang menjadi hiburan rakyat yang dipentaskan dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya di luar lingkungan istana.
Secara sepintas Mamanda Kutai memiliki kemiripan dengan Mamanda yang berkembang di masyarakat Banjar maupun Berau, namun tetap terdapat perbedaan mendasar. Perbedaan tersebut tampak pada bentuk ladon yang disajikan maupun penyajiannya, struktur dan komposisi musik iringan, serta ragam bahasa yang digunakan dalam dialog. Unsur-unsur inilah yang menjadi beberapa hal yang membentuk karakter khas Mamanda Kutai sebagai teater tradisional masyarakat Kutai.
Dokumentasi Pementasan Kelompok Memanda Panji Berseri dalam rangkaian Erau Adat Kutai & International Folk Arts Festival 26 Juli 2018
(Foto: Arsip Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara)
Dalam praktik pementasannya, Mamanda Kutai, atas sejumlah unsur yang saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan pertunjukan. Unsur-unsur tersebut meliputi alur cerita, latar tempat, penokohan, dialog, kostum, serta musik iringan.
Cerita yang dipentaskan dalam Mamanda Kutai umumnya bersumber dari Hikayat Seribu Satu Malam dan Hikayat Tanah Kutai, serta cerita karangan yang disusun dengan tetap mempertahankan nuansa istana sentris. Alur cerita biasanya berfokus pada konflik dan dinamika kehidupan kerajaan, termasuk persoalan kekuasaan, keadilan, kesetiaan, dan pengabdian.
Pada masa sebelumnya, pertunjukan Mamanda Kutai dapat berlangsung kurang lebih selama satu hingga empat jam. Durasi panjang ini memungkinkan pengembangan cerita yang rinci dan dialog yang panjang. Namun, dalam perkembangannya, durasi pertunjukan mengalami penyesuaian dan pemangkasan agar lebih sesuai dengan kondisi penonton dan kebutuhan pementasan masa kini.
Latar dalam pertunjukan Mamanda Kutai umumnya berkaitan dengan tempat-tempat berdasarkan adegan disajikan, seperti diantaranya Balai Longsari yang digambarkan sebagai ruang persidangan, taman istana, serta kawasan perkampungan. Selain itu, latar alam seperti hutan dan sungai juga kerap dihadirkan sesuai kebutuhan cerita.
Penunjukan latar tempat dalam Mamanda Kutai sebagian besar disampaikan melalui dialog para tokoh. Dalam perkembangannya, Mamanda Kutai menggunakan sebeng atau layar sebagai media visual pendukung seperti Kelompok Memanda Panji Berseri. Gambar pada sebeng yang dominan digunakan antara lain singgasana raja untuk menegaskan suasana istana atau persidangan, serta gambar bernuansa perdesaan untuk adegan yang berlatar kampung.
Sebeng Memanda Panji Berseri 2018
(Foto: Arsip Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara)
Penokohan dalam Mamanda Kutai merepresentasikan struktur sosial kerajaan. Tokoh-tokoh yang umum dihadirkan meliputi raja atau sultan, mangkubumi atau wazir, permaisuri, demong (pelayan raja), pangeran, putri, prajurit, pahlawan (panglima), prajurit, serta menteri pertama dan menteri kedua. Tidak seluruh tokoh selalu muncul dalam setiap pementasan; kehadiran tokoh disesuaikan dengan kebutuhan cerita.
Selain tokoh-tokoh kerajaan, terdapat pula tokoh penunjang yang berfungsi menguatkan alur cerita, seperti Kepala Adat, penduduk kampung, hingga tokoh supranatural seperti jin atau hantu. Keseluruhan penokohan dibangun berdasarkan cerita yang dipentaskan dan konteks dramatik yang ingin disampaikan.
Dialog dalam Mamanda Kutai sangat dipengaruhi oleh tema istana sentris. Tata bahasa dan pilihan bahasa mencerminkan status sosial tokoh. Raja, kerabat, dan petinggi kerajaan umumnya menggunakan bahasa Melayu dengan dialek serta struktur tertentu, sementara tokoh di luar lingkaran istana cenderung menggunakan bahasa Kutai dengan berbagai dialek, atau aksen daerah lain sesuai latar belakang tokoh.
Para pelakon dituntut untuk memahami karakter yang diperankan serta topik dialog pada setiap adegan, karen seluruh dialognya dilakukan dengan berimprovisasi. Untuk menjaga kesinambungan alur dan menghindari miskomunikasi, dalam pertunjukan Mamanda Kutai biasanya terdapat peran yang berfungsi seperti sutradara, yang mengarahkan kembali dialog dan alur cerita apabila terjadi kekeliruan.
Contoh gaya bahasa yang digunakan kerabat istana dan para punggawa
(Dalam audio tersebut adalah percakapan raja/sultan dan menteri pertama)
Kostum merupakan unsur visual penting dalam pertunjukan Mamanda Kutai. Meskipun tidak memiliki pakem baku yang kaku, penggunaan kostum tetap mengacu pada penggambaran karakter dan status sosial tokoh. Kostum tokoh raja, misalnya, dirancang untuk menampilkan kesan wibawa dan kebesaran. Salah satu contohnya kostum raja yang digunakan Memanda Panji Berseri (komunitas yang masih mempraktikkan Mamanda Kutai) mengadaptasi busana kebangsawanan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura. Pada praktik Memanda Panji Berseri, kostum raja terdiri dari hiasan kepala menyerupai setorong (Kopiah bundar dengan tinggi sekitar 15 cm khas Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martapura-dikutip dari Buku Pakaian Adat Tradisional Kalimantan Timur, 1990) yang dimodifikasi, pakaian atas berupa kemeja tanpa kerah dengan jas dan aksesori, serta bawahan berupa dodot bermotif batik. Kostum tokoh istana lainnya juga mengadaptasi busana kebangsawanan dengan variasi sesuai karakter. Sementara itu, tokoh pendukung seperti penduduk kampung atau pemuda menggunakan pakaian sederhana, dan tokoh dengan peran khusus seperti dukun, perompak, atau makhluk gaib menggunakan kostum yang disesuaikan dengan karakter masing-masing.
Kostum Raja/Sultan di Kelompok Memanda Panji Berseri yang diperankan oleh Bapak Ahmad Rusli (Seniman Mamanda Kutai)
(Foto: Fikri Yassaar Arrazaq)
Musik iringan merupakan unsur penting yang selalu hadir dalam pertunjukan Mamanda Kutai. Musik ini berfungsi sebagai pembuka pertunjukan, pengantar kemunculan tokoh, serta penguat suasana dramatik cerita. Musik iringan utama terdiri dari komposisi khas Mamanda Kutai, antara lain musik geduk, musik pahlawan, musik terek, ladon lagu satu, ladon lagu dua, serta musik benasib atau lagu nasib. Komposisi-komposisi tersebut tidak selalu dimainkan seluruhnya dalam setiap pertunjukan, melainkan disesuaikan dengan alur dan kebutuhan cerita.
Selain musik utama, terdapat musik iringan pendukung yang bersifat kontekstual. Musik iringan pendukung atau tambahan digunakan dalam adegan tertentu, semisal hadrah yang dimainkan untuk mengiringi rudat pada saat adegan ngarak penganten, atau tingkilan (menambah instrumen gambus) yang dimainkan untuk mengiringi jepen pada adegan hiburan pernikahan atau adegan perayaan (pesta).
Musik Geduk; biasa digunakan sebagai keluar masuknya tokoh selain pahlawan dan permaisuri serta putri
(Dikutip dari video pertunjukan Memanda Panji Berseri dengan lakon
"Putri yang Hilang")
Selain musik utama, terdapat musik iringan pendukung yang bersifat kontekstual. Musik iringan pendukung atau tambahan digunakan dalam adegan tertentu, semisal hadrah yang dimainkan untuk mengiringi rudat pada saat adegan ngarak penganten, atau tingkilan (menambah instrumen gambus) yang dimainkan untuk mengiringi jepen pada adegan hiburan pernikahan atau adegan perayaan (pesta).
Pemusik Memanda Panji Berseri pada saat latihan
(Foto: Fikri Yassaar Arrazaq)
Narasumber:
Bapak Achmad Rusli (Praktisi Mamanda Kutai)
Bapak Husni Mubarak (Ketua Bina Teater Kutai)
Bapak Muhammad Nur (Musisi Mamanda Kutai)
Bapak Saiful Anwar (Praktisi Mamanda Kutai)
*Artikel ini telah melalui proses penyuntingan oleh Aceng Prangat dengan bantuan alat kecerdasan buatan untuk optimalisasi bahasa tanpa mengubah substansi dari penulis asli.