Teater Tradisional Khas Masyarakat Kutai di Desa Lebak Cilong
Penulis: Muhammad Iqbal Saputra | 27 Maret 2025
Pertunjukan teater tradisional Damarwulan Kutai oleh Kelompok Kêham Balai Tambêk di Desa Lebak Cilong, Kutai Kartanegara merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Kesenian ini tidak sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang ekspresi budaya yang menyatukan masyarakat dalam satu pengalaman kolektif.
Damarwulan mengisahkan perjuangan para raja (seperti pada kisah epos ramayana) yang hendak mempersunting anak angkat Nenek Rasgol, yaitu Putri Luweh Kadih Indêh Rupa yang lahir dari sebuah telur. Cerita ini berbeda dengan kisah Damarwulan yang berkembang di Jawa Timur, di mana tokoh Damarwulan dikenal sebagai ksatria yang diutus mengalahkan Minak Jinggo (raja Blambangan), demi menyelamatkan dan mempersunting Ratu Kencanawungu dari Kerajaan Majapahit.
Meskipun memiliki kesamaan nama, versi Kutai berkembang dengan ciri khas lokal yang kuat. Penyesuaian tampak pada tokoh, alur cerita, dialog, musik pengiring, hingga unsur humor yang disisipkan untuk menghibur penonton. Nama “Damarwulan” menurut para praktisinya berasal dari kata damar (getah untuk penerangan) dan wulan (bulan). Secara harfiah, istilah ini merujuk pada pertunjukan yang digelar pada malam hari dengan cahaya damar dan sinar bulan sebagai penerang alami. Makna tersebut mencerminkan suasana sakral sekaligus keindahan tradisional yang tercipta dalam setiap pementasan.
Kisah Awal Damarwulan Kutai
Secara historis, berkembangnya Damarwulan Kutai konon tidak terlepas dari proses perpaduan budaya antara Jawa dan Kutai yang telah berlangsung sejak masa kerajaan hingga periode transmigrasi awal. Cerita Damarwulan mengalami adaptasi sesuai dengan konteks sosial dan nilai budaya masyarakat Kutai. Proses penyesuaian ini merupakan dinamika yang wajar dalam perkembangan tradisi lisan, di mana sebuah kisah dapat tumbuh dan menemukan identitas barunya di lingkungan berbeda.
Dalam praktiknya, Damarwulan Kutai disajikan sebagai hiburan masyarakat pada berbagai kegiatan adat dan perayaan kampung. Pementasan umumnya dilakukan pada malam hari agar seluruh warga dapat berkumpul setelah menyelesaikan aktivitas sehari-hari. Dari sinilah tercipta suasana kebersamaan yang hangat, memperkuat ikatan sosial antarwarga.
Fungsi Sosial dan Budaya
Lebih dari sekadar tontonan, Damarwulan Kutai berfungsi sebagai media penyampaian nilai moral dan sosial. Kisah tentang perjuangan, keberanian, kesetiaan, hingga sifat sombong dan tamak menjadi sarana pembelajaran bagi generasi muda. Dialog dan alur cerita mengajak penonton memahami pentingnya keadilan, kebijaksanaan, dan kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat. Kesenian ini juga menjadi sarana pelestarian budaya daerah yang diwariskan lintas generasi. Dalam perkembangannya, beberapa unsur pertunjukan mengalami penyesuaian mengikuti dinamika zaman tanpa menghilangkan ciri khas tradisionalnya. Fleksibilitas inilah yang membuat Damarwulan Kutai tetap hidup dan diminati hingga kini.
Struktur Pertunjukan
Damarwulan Kutai tidak hanya mengandalkan kekuatan narasi, tetapi juga memperkaya pementasan melalui unsur musikal. Ritme musik dan lagu yang khas serta mudah diingat menjadi daya tarik tersendiri, sekaligus memperjelas alur cerita. Cerita yang disajikan bernuansa istana-sentris dengan struktur babak yang sistematis, mulai dari babak pertama hingga babak ketujuh. Setiap babak menggambarkan perkembangan konflik hingga mencapai resolusi. Pada masa lalu, pertunjukan oleh Kelompok Keham Balai Tambek dapat berlangsung hingga 48 jam. Namun dalam praktik kekinian, durasi tersebut sering dipangkas menyesuaikan waktu yang disediakan penyelenggara. Meski demikian, inti cerita dan kekuatan dramatiknya tetap dipertahankan.
Unsur-Unsur Pendukung Pertunjukan
Penokohan
Kehadiran tokoh-tokoh dalam pertunjukan Damarwulan Kutai berperan penting dalam membangun alur cerita yang sarat konflik kekuasaan dan peperangan antar kerajaan. Seluruh pelakon umumnya dimainkan oleh kaum pria, termasuk karakter perempuan, namun penggambaran peran tetap disesuaikan dengan sifat dan ciri masing-masing tokoh sehingga cerita tetap hidup dan meyakinkan. Secara keseluruhan terdapat sebelas karakter yang terlibat dalam pementasan, termasuk para tentara. Tokoh utama yang mendominasi cerita ialah Raja Rahwana, Raja Srirama, dan Raja Laksamana sebagai pemimpin tiga kerajaan yang saling bersaing dengan karakter berbeda-beda, disertai tokoh Nenek Deloy (istri Nek Rasgol), Nenek Rasgol selaku Raja Pulau Laut, Putri Luweh Kadih Indeh Rupa sebagai anak Nek Rasgol, Rabung, Colok, Hanoman dan Bibisana, yang bersama tokoh-tokoh tambahan dan pasukan masing-masing raja membentuk dinamika dramatik dalam pertunjukan.
Tokoh Nenek Rasgol dan Deloy
(Foto: Muhammad Iqbal Saputra)
Latar Tempat
Pentas biasanya dilengkapi sebuah meja di tengah sebagai simbol singgasana kerajaan. Meja ini menjadi pusat dialog dan perumusan strategi para raja. Properti rotan yang dibawa aktor berfungsi sebagai tongkat kerajaan atau pedang, melambangkan kekuasaan dan kekuatan. Penggunaan properti sederhana ini justru memperkuat karakter tradisional pertunjukan, sekaligus menunjukkan kreativitas dalam memaknai simbol.
Dialog
Dialog dalam Damarwulan Kutai memadukan unsur budaya Jawa dan Kutai. Tokoh raja dan tentara menggunakan bahasa Jenang (dipercaya bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa kuno), sementara tokoh pendukung lain menggunakan bahasa Kutai dialek Lebak Cilong yang lebih akrab dan komunikatif. Bahasa Jenang juga digunakan pada saat besyair, sejenis senandung pengantar sebelum masuknya tokoh ke dalam arena.
Dialog tokoh Sandung Gunung yang menggunakan bahasa Jenang
Kostum
Kostum menjadi media komunikasi visual yang sarat makna. Atribut seperti keotopong melambangkan kehormatan, badong mencerminkan keberanian, kain kuning di leher melambangkan spiritualitas, dan baju batik memperkuat karakter tokoh.
Warna kostum juga menjadi penanda identitas:
Raja Rahwana dengan atribut hitam melambangkan kekuatan dan sisi gelap.
Raja Srirama dengan warna merah mencerminkan keberanian dan semangat juang.
Raja Laksamana dengan busana putih melambangkan kebijaksanaan dan kemurnian.
Warna kostum tentara diselaraskan dengan warna raja masing-masing sebagai simbol loyalitas. Elemen visual ini membantu penonton mengenali karakter tanpa harus memahami seluruh dialog.
Musik Pengiring Damarwulan Kutai di Lebak Cilong
Musik dalam pementasan Damarwulan oleh kelompok Keham Balai Tambek bukan sekadar latar suara, melainkan nyawa yang menghidupkan setiap gerak dan lakon. Sebagai teater tradisional yang lahir dari hibriditas budaya, unsur musikalnya mencerminkan perpaduan unik yang menjadi ciri khas Damarwulan di Lebak Cilong. Musik berfungsi secara krusial sebagai musik pengantar yang menandai momen keluar-masuknya pelakon sekaligus memberikan karakterisasi pada setiap tokoh yang muncul. Musik ini juga digunakan sebagai pengiring ladon yang disajikan sebagai pembuka pertunjukan dan nyanyian pujian terhadap raja.
Instrumen Utama
Pertunjukan ini bertumpu pada empat instrumen utama yang memiliki peran spesifik dalam membangun arena pertunjukan:
Piul (Biola): Instrumen ini memegang peranan pentingsebagai pemandu melodi. Alunan piul menentukan suasana dari lakon yang sedang dibawakan maupun ladon yang disajikan.
Gong: Suara gong yang menggema memberikan aksentuasi atau penekanan pada setiap iringan. Ia berfungsi sebagai pemberi bobot pada dinamika musik.
Babon (gendang): Merupakan instrumen ritmis yang bertugas menjaga tempo agar pertunjukan tetap stabil.
Saron: Melengkapi babon dalam menjaga ritme, saron juga berfungsi sebagai penanda transisi antar bagian dalam pementasan.
Narasumber:
Bapak Rusdi (Kepala Adat Keham Balai Tambêk)
Bapak Hamzah (Pemusik Damarwulan)
Sahlan (Pelakon Damarwulan)
Bapak Kudi (Pemusik dan Pelatih Damarwulan)
*Artikel ini telah melalui proses penyuntingan oleh Aceng Prangat dengan bantuan alat kecerdasan buatan untuk optimalisasi bahasa tanpa mengubah substansi dari penulis asli.