Gendang Agong Paser Telake
Gendang Agong Paser Telake
Harmoni Perkusi dan Seni Bela Diri Kuntau Masyarakat Paser Telake
Penulis: Pazru Rahman | 14 Februari 2026
Gendang Agong merupakan sebuah seni pertunjukan khas masyarakat Paser, salah satunya masyarakat Paser Telake di Kecamatan Long Kali, Kabupaten Paser. Kesenian ini memadukan ketangkasan bela diri Kuntau dengan gendang dan agong (gong) sebagai instrumen utama serta kelentangan sebagai penguat melodi dan ritme. Sebagai seni bela diri, Gendang Agong secara implisit juga dapat dikategorikan sebagai seni tari dalam konteks tertentu, karena menampilkan gerakan tubuh yang terstruktur, ritmis, estetis, dan disajikan dalam iringan musik tradisional.
Filosofi dan Perbedaan dengan Gendang Pengantin
Dalam tradisi Paser, terdapat pembedaan halus namun esensial antara Gendang Agong dan Gendang Pengantin. Meski keduanya menggunakan instrumen yang serupa, perbedaannya terletak pada aspek sakralitas dan tujuan:
Gendang Pengantin: Merupakan instrumen yang dibuat secara berpasangan dari batang kayu yang berbeda, menggunakan kulit binatang jantan dan betina sebagai simbolisasi "perkawinan" manusia. Gendang ini bersifat sangat sakral, digunakan khusus dalam ritual pengobatan atau upacara adat seperti Belian (khususnya ritual yang berkaitan dengan air). Dalam konteks ini, musik hadir tanpa iringan pencak silat.
Gendang Agong: Lebih bersifat profan atau hiburan. Instrumen yang digunakan tidak harus sepasang gendang sakral tersebut. Gendang Agong memberikan ruang yang lebih luas bagi fungsi hiburan, dimana fokus utamanya adalah menjadi pengiring gerakan bela diri Kuntau.
Sejarah: Seni sebagai Taktik Perlawanan
Eksistensi Gendang Agong menyimpan narasi sejarah yang heroik. Pada masa kolonial Belanda, latihan bela diri bagi masyarakat lokal dilarang keras karena dianggap sebagai ancaman keamanan. Untuk menyiasatinya, para leluhur masyarakat Paser menggabungkan latihan bela diri dengan iringan musik. Di hadapan penjajah, kegiatan ini tampak seperti pertunjukan tari tradisional yang tidak berbahaya. Namun, di balik alibi ritme Titik Kuntau tersebut, masyarakat sebenarnya sedang mengasah ketangkasan fisik dan mental untuk mempertahankan diri.
Fungsi Sosial dan Teknis
Gendang Agong memiliki multifungsi dalam kehidupan masyarakat Paser Telake, tidak hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai bagian yang menjadi kesatuan dari struktur sosial dan budaya setempat. Dalam ranah hiburan, kesenian ini menjadi sajian utama pada berbagai perayaan, seperti pesta pernikahan, pesta panen atau pesta kampung, hingga kegiatan resmi pemerintahan, sehingga kehadirannya kerap menandai peristiwa penting dalam kehidupan kolektif masyarakat. Secara historis, Gendang Agong juga berfungsi sebagai sarana komunikasi tradisional; bunyinya dimainkan di atas kapal yang menyusuri sungai, dan gema dentuman gendang serta agong di sepanjang aliran sungai menjadi penanda adanya hajatan atau acara besar di suatu desa. Pada tataran teknis pertunjukan, musik Gendang Agong berperan sebagai pengatur tempo bagi para pemain Kuntau, karena ritmenya membantu menjaga ketepatan gerak, keseimbangan kekuatan (power), serta intensitas semangat (spirit), sehingga membentuk keselarasan yang padu antara unsur bela diri dan musikalitas.
Pertunjukan Gendang Agong dalam acara Festival Budaya Paser VI "Ungan Purun" 2023
(Dokumentasi: Pazru Rahman)
Instrumen dan Unsur Pertunjukan
Ansambel musik ini terdiri dari beberapa instrumen penting yang menghasilkan irama yang disebut Titik Kuntau:
Kelentangen/Tengkanong
Deretan gong kecil (mirip bonang) bernada pentatonis yang dimainkan menggunakan sepasang alat pemukul khusus untuk menghasilkan pola ritmis dan melodis. Sebagai alternatif, dapat diganti dengan Gelegondang yang terbuat dari bilah kayu sungkai, yang juga dimainkan dengan alat pemukul dan berfungsi serupa dalam membangun struktur irama serta warna bunyi dalam sajian musik.
Instrumen Kelentangen
(Dokumentasi: Pazru Rahman)
Gendang
Gendang yang digunakan tediri dari dua buah, yaitu Gendang Laki (berukuran besar) dan Gendang Bini (berukuran kecil), masing-masing memiliki dua sisi tabuh; satu sisi dimainkan menggunakan stik (alat pemukul) untuk menghasilkan bunyi yang lebih nyaring dan tegas, sementara sisi lainnya dipukul dengan telapak tangan untuk menghasilkan warna bunyi yang lebih dalam dan lembut. Keduanya berfungsi sebagai pengatur tempo sekaligus pembentuk dinamika dan aksentuasi dalam permainan musik.
Agong
Instrumen ini merupakan jenis gong yang berpencu dan dimainkan dengan posisi menggantung pada tempat khusus (rangka atau penyangga gantung agong) dan dimainkan menggunakan alat pemukul berlapis kain. Berfungsi sebagai pemandu tempo dan penjaga ritme agar permainan tetap harmonis serta menjadi penanda struktur dalam komposisi musik.
Bentuk Penyajian
Pertunjukan Gendang Agong merupakan perpaduan antara sajian musik tradisional dan seni bela diri Kuntau yang ditampilkan secara berkelompok dengan alur yang dinamis. Iringan Gendang Agong tidak hanya menjadi latar bunyi, tetapi juga menyatu dengan gerak bela diri sebagai pengatur tempo, ritme, dan suasana pertunjukan.
Sesi Tunggal: Dibuka dengan peragaan jurus Kuntau secara individu untuk menunjukan keindahan, kelenturan, dan ketepatan teknik gerak dengan diiringi tabuhan Gendang Agong yang menyesuaikan dinamika jurus.
Sesi Kelompok: Beberapa pemain Kuntau melakukan gerakan secara serempak, menampilkan kekompakan dan pola lantai yang terstruktur dengan iringan musik yang semakin dinamis.
Sesi Duel (Belawanan): Bagian puncak pertunjukan, di mana para pemain Kuntau saling beradu ketangkasan (sparing) di arena atau panggung untuk menunjukkan keahlian bela diri mereka, dengan iringan Gendang Agong yang menegaskan ketegangan, tempo, dan klimaks adegan.
Bekuntau (Paser) Sesi Kelompok
(Tangkapan Layar: https://youtu.be/dFIJ5qjEqpk?si=_oPrpUhUTpmj7hKh )
Makna Simbolik
Setiap hentakan dalam Gendang Agong memuat makna simbolik yang mendalam tentang keseimbangan yang tercermin dari penggunaan gendang laki dan gendang bini sebagai representasi prinsip dualitas alam, maskulin dan feminin, misalnya melalui pemilihan kulit hewan jantan untuk gendang laki dan kulit hewan betina untuk gendang bini, serta penggunaan kayu yang tidak berasal dari tempat yang sama karena diyakini masih memiliki kekerabatan.
Harmoni pada gendang agong berjalan selaras sebagai wujud ketahanan budaya yang berakar pada sejarahnya sebagai tari penyamaran yang melambangkan kecerdikan dan daya tahan masyarakat Paser dalam mempertahankan identitas di tengah tekanan, sekaligus mencerminkan solidaritas komunal yang tampak dalam tradisi memainkan musik di atas kapal sungai sebagai simbol kebersamaan dan keterbukaan untuk berbagi sukacita.
Narasumber:
Bapak Dwi Totok (Koordinator Bidang Pelestarian Lembaga Adat Paser Borneo)
Bapak Sudirman (Ketua Lembaga Adat Paser Borneo)
Alm. Bapak Benyamin (Mantan Pembina Kesenian Gendang Agong Grogot)
*Artikel ini telah melalui proses penyuntingan oleh Aceng Prangat dengan bantuan alat kecerdasan buatan untuk optimalisasi bahasa tanpa mengubah substansi dari penulis asli.