Senandung Curahan Hati pada Masyarakat Kutai
Penulis: Kresna Syuhada Rawanggalih | 14 Februari 2026
Bedandeng merupakan kesenian sastra lisan masyarakat Kutai yang terdapat di wilayah Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Kesenian ini disajikan dalam bentuk lantunan vokal spontan tanpa menggunakan teks atau naskah tertulis. Penyajiannya mengandalkan ingatan, pengalaman, dan kepekaan pelantun terhadap situasi tertentu, sehingga setiap lantunan dapat berbeda sesuai konteksnya.
Berbeda dengan tarsul yang umumnya disajikan dalam konteks seremonial seperti tamatan Qur’an, upacara naik ayun, dan pernikahan, Bedandeng hadir dalam aktivitas keseharian masyarakat. Lantunannya dapat ditemui saat bekerja mencari ikan, beristirahat di ladang, maupun ketika menidurkan anak. Kehadiran Bedandeng dalam ruang domestik dan aktivitas kerja menunjukkan kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Kutai.
Bapak Saiful Anwar salah seorang penutur dandeng
(Dokumentasi: Kresna Syuhada Rawanggalih)
Bahasa yang digunakan dalam Bedandeng pada umumnya adalah bahasa Kutai. Namun, dalam praktiknya kerap dijumpai penggunaan bahasa Melayu atau bahasa Indonesia sebagai bahasa pendamping. Penggunaan bahasa tersebut bersifat fleksibel dan menyesuaikan dengan latar sosial pelantun serta pesan yang ingin disampaikan melalui lantunan. Lantunan Bedandeng bersifat improvisatif, spontan, dan kontekstual. Karena tidak berpijak pada teks yang baku, pelantun bebas mengembangkan lirik, irama vokal, dan melodi sesuai suasana. Ciri khas Bedandeng tampak pada pola pengulangan kata, permainan intonasi, serta variasi melodi yang sederhana namun ekspresif.
Dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Kutai, Bedandeng memiliki beragam fungsi. Kesenian ini berperan sebagai sarana hiburan tradisional dalam aktivitas keseharian, terutama saat bekerja atau beristirahat. Selain itu, Bedandeng menjadi media ekspresi emosional yang memuat ungkapan rasa syukur, kesedihan, kegembiraan, kegelisahan, dan kerinduan.
Bedandeng juga kerap digunakan sebagai pengantar tidur anak karena dipercaya dapat memberikan rasa tenang dan mengalihkan perhatian dari hal-hal yang menimbulkan ketakutan. Di sisi lain, lantunan ini berfungsi sebagai sarana pendidikan nonformal, terutama dalam pewarisan bahasa, nilai moral, dan kearifan lokal. Dalam konteks tertentu, Bedandeng menjadi bagian dari praktik spiritual atau ritual, khususnya ketika lantunan mengandung unsur doa atau tawasul.
Bapak Saiful Anwar pada saat berladang
(Dokumentasi: Kresna Syuhada Rawanggalih)
Secara bentuk, Bedandeng dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis, antara lain Bedandeng dalam bentuk pantun yang menggunakan struktur pantun sebagai dasar lirik dan dikembangkan melalui pengulangan serta improvisasi, Bedandeng dalam kalimat bebas yang tidak terikat pada pola rima tertentu dan lazim digunakan sebagai pengantar tidur anak, Bedandeng dalam pantun syukur yang dilantunkan untuk mengungkapkan rasa syukur atau kebahagiaan, serta Bedandeng bertawasul atau berima yang mengandung unsur doa, pujian, dan nilai religius. Berikut adalah beberapa jenis Dandeng berdasarkan konteks dan bentuknya.
Bedandeng dengan Bentuk Pantun
Konteks meratap
Pantun dasar:
Asam kendi jatuh ke sumur
Jika dilihat bayang si bayang
Aku menangis di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
Lantunan Bedandeng:
Asam lah kendis, hai jatuh ke sumur
Jika dilihat bayang si bayang, si bayang
Aku menangis di pintu kubur
Teringat badan, sembahyang tidak sembahyang
Video Bedandeng dengan bentuk pantun
Bedandeng dengan Bentuk Kalimat Berima
Bertawasul
Kalimat dasar:
Dengan bismillah saya ucapkan
Alhamdulillah kan tercurahkan
Salam salawat etam haturkan
Kepada Nabi kita junjungan
Lantunan Bedandeng:
Dengan bismillah, hai saya ucapkan
Alhamdulillah kan tercurah kan, tercurah kan
Salam salawat, hai etam haturkan
Kepada Nabi junjungan kita, junjungan
Bedandeng dengan Bentuk Kalimat Bebas.
Konteks menidurkan bayi:
Bue bue bue babue
Hai anakku halus
Anakku halus, menangis jangan menangis
Bedandeng dengan bentuk kalimat bebas
(Dokumentasi: Kresna Syuhada Rawanggalih)
Selain bentuk-bentuk tersebut, masih terdapat beragam jenis dandeng lainnya yang disesuaikan dengan tema tertentu dan umumnya memuat ungkapan perasaan atau curahan hati.
Pewarisan Bedandeng berlangsung secara alami melalui tradisi lisan dengan mengandalkan proses peniruan dan ingatan budaya. Anak-anak dan generasi muda mempelajarinya dari orang tua, keluarga, atau lingkungan sekitar tanpa melalui pembelajaran formal. Namun, perubahan sosial dan dinamika kehidupan masyarakat Kutai masa kini menyebabkan praktik Bedandeng semakin jarang dijumpai dalam keseharian, sehingga proses pewarisan antargenerasi mengalami penurunan.
Sebagai bentuk pengakuan atas nilai budayanya, Bedandeng telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) pada tahun 2025. Penetapan ini mendorong berbagai upaya pelestarian, antara lain melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi di lingkungan sekolah dan masyarakat umum, penyelenggaraan kegiatan budaya dan festival, serta pelibatan organisasi budaya, pemerintah daerah, dan komunitas masyarakat dalam kegiatan workshop, lomba, dan dokumentasi. Upaya-upaya tersebut menjadi bagian dari proses pelestarian dan pengarsipan Bedandeng sebagai salah satu unsur penting dalam identitas budaya masyarakat Kutai.
Narasumber:
Bapak Achmad Rusli (Praktisi Kesenian Tradisi Kutai)
Bapak Saiful Anwar (Praktisi Bedandeng)
*Artikel ini telah melalui proses penyuntingan oleh Aceng Prangat dengan bantuan alat kecerdasan buatan untuk optimalisasi bahasa tanpa mengubah substansi dari penulis asli.